Think Positive

Seorang pria bernama Eric sedang berjalan-jalan di batas kota bersama anjingnya yang bernama Nova. Nova melihat seekor kelinci dan semangat mengejarnya hingga tali kekangnya lepas dari Eric. Nova berlari semakin jauh dan Eric tidak bisa mengejarnya lagi. Eric sudah berusaha mencari Nova, bahkan selama beberapa hari, namun Nova tidak lagi ditemukan. Eric begitu sedih karena dia sangat sayang dengan anjingnya. Setelah beberapa hari, seorang wanita cantik bernama Vanessa mengetuk pintu rumah Eric dan membawa Nova yang dia temukan dekat rumahnya. Berawal dari sini, Eric dan Vanessa kemudian bercengkerama, berkencan, jatuh cinta, dan kemudian akhirnya menjadi pasangan suami istri.

Di suatu hari pada saat mengemudi untuk menjemput Vanessa, Eric mengalami kecelakaan mobil yang membuatnya harus dilarikan ke rumah sakit. Dokter melakukan tindakan medis yang diperlukan dan CT scan bagian kepala Eric untuk mengecek trauma di kepala. Dokter memberi kabar ke Eric bahwa dia tidak mengalami cedera berat akibat kecelakaan itu, tetapi mereka menemukan tumor kecil di otaknya. Tumor itu berada pada tahap perkembangan sangat dini dan dapat dengan mudah diangkat. Eric merenung, di satu sisi dia mendapat berbagai kesulitan hidup, namun di sisi lain, kesulitan tersebut membawanya ke sesuatu yang lebih baik. Bila Nova tidak pernah hilang, mungkin dia tidak pernah bertemu wanita yang sekarang menjadi istrinya, bila Eric tidak mengalami kecelakaan, mungkin tumor di otaknya tidak akan ditemukan. Ini adalah kisah singkat “The Nova Effect” dari The Pursuit of Wonder.

Cerita ini mirip dengan kisah “The Chinese Farmer” oleh Alan Watts yang menceritakan tentang seorang petani Tionghoa yang suatu ketika kudanya kabur saat sedang menggembala. Semua tetangga yang tahu kabar tersebut datang untuk bersimpati. Mereka berkata, “Kami turut bersedih mendengar kudamu melarikan diri. Ini hal yang sangat disayangkan dan merugikan.” Petani itu membalas, “Mungkin.” Keesokan harinya kuda itu kembali dengan membawa tujuh ekor kuda liar ke sang petani, dan semua orang yang tahu kembali berkata ke petani, “Wah, demikian beruntung ya, sekarang kamu memiliki delapan kuda! ” Petani itu kembali berkata, “Mungkin.”

Beberapa hari kemudian, putra dari sang petani mengalami kecelakaan jatuh saat menunggangi kuda, dia terlempar dan kakinya patah. Para tetangga berkata, “Ya ampun, kami turut bersedih, itu kejadian yang sangat buruk” dan petani itu menjawab, “Mungkin.” Keesokan harinya petugas wajib militer datang ke rumah sang petani untuk mengambil para pemuda yang sehat agar menjadi tentara membela negaranya di medan perang, dan mereka menolak putra sang petani karena dia mengalami patah kaki. Semua tetangga pun datang dan berkata, “Ini berita bagus, putramu tidak jadi ikut perang dan bisa terus bersamamu” Sekali lagi, sang petani menjawab, “Mungkin.”

Dua cerita fabel diatas hanya beberapa contoh kecil dari berbagai fenomena yang dialami setiap orang, setiap hari. Dalam suatu masa, kita kadang mengalami berbagai hal yang diluar ekspektasi. Kita sering mengeluh bahwa ini adalah hal buruk, namun kita juga sering overjoyed dengan hal-hal yang menurut kita baik, padahal bisa saja itu adalah awal sebuah petaka.

Seluruh fase dan dinamika kehidupan adalah proses terintegrasi dengan kompleksitas yang sangat tinggi, dan sangat tidak mungkin untuk mengatakan apakah sesuatu yang terjadi itu baik atau buruk – karena kita tidak pernah tahu apa yang akan menjadi konsekuensi dari sebuah kemalangan. Begitu juga kita tidak pernah tahu apa konsekuensi dari sebuah keberuntungan. Respon yang optimal adalah, kita harus memilki awareness yang tinggi akan eksistensi diri. Melihat diri sendiri dari sudut pandang orang ketiga yang menarasikan cerita hidup kita, kadang kita mesti keluar dari bingkai rutinitas terkini, dan membaca timeline kehidupan personal dari masa lalu, saat ini, dan proyeksi masa depan. Harapannya, kita akan selalu postif menghadapi hal-hal terburuk dalam hidup, tidak patah asa, dan juga tidak berlebihan menikmati kesenangan hingga lupa diri akan tujuan yang lebih besar. Sayangnya menjadi aware terhadap eksistensi diri sendiri adalah hal yang esoterik, tidak semua orang mampu, dan tidak semua orang bisa konsisten melakukannya. Namun, langkah kecil yang mungkin mudah dilakukan adalah kita harus selalu bersyukur, bersyukur, dan bersyukur bahwa kita “ada” di dunia ini untuk menikmati setiap momen bersama orang-orang tercinta yang peduli dengan kita. Jadi, yuk berpikir positif setiap waktu!

Mengapa Berubah?

Dulu waktu orang bilang kesehatan itu mahal, kita nggak begitu mengerti maksudnya. Tapi pandemi yang kita alami sekarang mengajarkan makna “mahal” tersebut. Pertama, mahal dalam arti bisa fatal karena lalai menjaga kesehatan nyawa bisa menjadi taruhannya. Beruntungnya vaksinasi sudah mulai dilakukan, namun sambil menunggu giliran sebaiknya protokol  kesehatan adalah yang terbaik untuk menghindari virus. Makna mahal yang kedua adalah terkait dengan biaya. Ketika kita terpaksa banyak interaksi dengan orang dan ingin memastikan kondisi kesehatan kita akan terus menerus melakukan tes baik swab atau rapid, tentu biayanya tidak murah.

Kejadian pandemi ini kemudian “memaksa” orang untuk mengubah perilakunya. Yang dulu sering kumpul-kumpul alias gaul, sekarang terpaksa banyak diam di rumah. Yang dulu kalau makan seenaknya saja, sekarang mulai mikir soal menu sehat dan jumlah kalori. Yang dulu nggak pernah olah raga, menjadi rajin rutin berolah raga. Mengapa mau berubah? Karena ingin lebih sehat dan lebih imun terhadap virus.  Semua ingin hidup, nggak ada yang mau meninggal. Persis seperti yang Darwin sampaikan, “It is not the strongest of the species that survives, nor the most intelligent that survives. It is the one that is most adaptable to change”.

Lalu sebenarnya apa saja yang membuat seseorang bisa berubah perilakunya dan bagaimana kita bisa mengubah perilaku seseorang?

Selalu berangkat dari pertanyaan dasar “what’s in it for me?” dalam suatu proses perubahan. Seseorang mau berubah bila mengetahui ada manfaatnya. Adalah absurd mengharapkan seseorang berubah tetapi tidak bisa menggambarkan mengapa mereka harus berubah. Ini yang dikatakan John P. Kotter dalam 8 steps of leading change, tahap pertamanya yaitu creating sense of urgency. Ada urgensi sehingga seseorang atau organisasi mau berubah. Bahkan saking pentingnya urgensi dalam suatu proses perubahan, Kotter kemudian menulis satu buku khusus membahas mengenai topik tersebut. Jika sudah paham mengapa harus berubah, berarti sudah separuh perjalanan proses perubahan.hanya tinggal bagaimana melakukan perubahan. Misalnya ingin imunitas lebih tinggi? Upayanya minum suplemen, olah raga teratur, tidur yang cukup dan menjaga pola makan. Yang umumnyalebih sulit justru menemukan urgensi pada seseorang atau organisasi, sehingga kalau kalau sudah ada maka selanjutnya akan lebih mudah.

Jadi mengapa seseorang mau berubah? LifeHack menjelaskan ada tiga hal yang menyebabkan seseorang berubah: sudah lebih paham, sudah cukup lama menderita, dan sudah lelah akan hal yang sama. Orang sudah lebih paham mengenai manfaat dari kesehatan, sehingga mereka akan mengubah gaya hidupnya menjadi lebih sehat. Orang sudah cukup menderita dengan penyakitnya, sehingga akan secara drastis mengubah gaya hidupnya menjadi lebih sehat sehingga lepas dari penyakit yang dideritanya. Seseorang keluar dari pekerjaannya karena situasinya sudah unbearable, dia ingin lebih sehat secara batin sehingga lebih less pressure. Ketiga hal utama tersebut yang bisa mendorong seseorang untuk berubah.

Namun demikian, ada juga orang yang cenderung tidak mau berubah. Mengapa demikian? Henry Edberg menjelaskan faktor penyebab orang tidak mau berubah. Pertama, tidak berani berubah. Mereka takut akan resiko kegagalan. Namun seseorang harus berani mengambil resiko, dan terkadang meskipun hasilnya memang tidak sesuai dengan yang diharapkan. Namun orang tersebut akan merasakan sensasi luar biasa karena sudah berani melangkah keluar dari comfort zone yang ada. Kedua adalah lingkungan yang kurang mendukung. Orang sungkan untuk memutus hubungan dengan lingkungan dengan lingkungan meskipun tidak mendukung. Namun berubah bukan berarti kemudian kita harus keluar dari lingkungan tersebut, cukup minimalisir interaksi dalam lingkungan tersebut. Ketiga adalah cepat menyerah setelah gagal. Biasanya setelah melakukan perubahan dan tidak langsung berhasil, seseornag dalam keraguan. Kawatir kalau gagal akan dicemooh sama orang lain. Pada saat itu sebenarnya kita sedang diuji keteguhan hati, sampai seberapa besar keinginan kita untuk berubah. Keempat adalah kita belum merasakan penderitaan yang sangat. Hal ini menyebabkan kita menyepelekan urgensi perubahan. Padahal kalau kita mau duduk sejenak melakukan refleksi serta mengambil pelajaran dari orang lain, urgensi tersebut akan terlihat. Terakhir adalah mau berubah tapi nggak tauk gimana caranya. Yang perlu dilakukan adalah cari orang yang sudah pengalaman. Ajak diskusi untuk menggali informasi. Dunia sekarang sudah serba digital, semua informasi mudah diperoleh di dunia maya. Dunia sekarang sudah serba digital, semua informasi mudah diperoleh di dunia maya. Banyak buku atau artikel serta menonton video yang bisa memberikan informasi.

Jadi gimana? Mau duduk sejenak melakukan refleksi dan memikirkan urgensi perubahan nggak? Yuk lakukan sesering mungkin agar bisa menjadi manusia yang lebih baik di masa mendatang. Salam.

Our greatest glory is not in never failing, but in rising everytime we fall” (confucius)