Komunikasi Efektif dengan Teknik Mirroring

Bagaimana rasanya berkomunikasi dengan orang yang sudah lama mengenal kita? Lebih nyaman bukan? Biasanya karena kita sudah mengenal satu sama lain, perasaan nyaman ketika berkomunikasi itu pasti akan didapatkan. Hal seperti itu tidak akan mudah tercipta ketika kita berkomunikasi dengan orang yang baru ditemui atau baru kenal. Tapi ternyata, ada sebuah teknik dalam berkomunikasi yang dapat membuat lawan bicara merasa nyaman dengan kita bahkan di awal pertemuan. Teknik itu dinamakan mirroring. Yuk, kenal lebih jauh tentang teknik ini!

Dalam kehidupan kita sering menemukan situasi dimana kita berkomunikasi secara nyaman dengan orang lain. Tidak hanya kita yang merasa nyaman, tapi lawan bicara kita pun merasa nyaman. Hal ini bukanlah sesuatu yang terjadi begitu saja. Kenyamanan dalam berkomunikasi dengan orang lain didapatkan ketika kita dan lawan bicara saling merasakan hal, pemikiran, ide atau kesukaan yang sama dengan kita. Semakin banyak hal yang berkaitan dengan diri kita, maka gap yang menghalangi proses komunikasi kita akan lebih kecil dan orang lain akan merasa nyaman dengan kita. Hal inilah yang kemudian membuat para ahli komunikasi kemudian menyimpulkan bahwa agar seseorang dapat memperkecil gap yang ada dengan lawan bicaranya, orang tersebut harus dapat memiliki “kesamaan” dengan lawan bicaranya. “Kesamaan” yang paling mudah terlihat bahkan di awal pembicaraan adalah kesamaan dalam hal gestur, pola berbicara, dan tingkah laku.

Berdasarkan buku yang ditulis T. L. Chartrand dan J. A. Bardgh tahun 1999 berjudul “The Chameleon Effect : The perception-behavior link and social interaction”, teknik itulah yang kemudian disebut dengan teknik mirroring atau teknik yang mengimitasi hal-hal nonverbal dari lawan bicara sehingga seseorang dapat bergestur, pola berbicara dan bertingkah laku yang mirip dengan lawan bicaranya. Seperti halnya Chameleon atau bunglon yang berubah warna menyesuaikan dengan lingkungannya, seseorang dengan teknik ini pun melakukan hal yang serupa.

Sebenarnya teknik ini seringkali kita rasakan secara tidak sengaja atau tidak sadar. Pernahkah bertemu orang asing yang tersenyum ketika melihat kita dan kita membalasnya dengan senyuman? Atau, ketika orang terlihat bingung, maka kita juga secara tidak sadar akan berekspresi kebingungan? Ada lagi saat kita sedang berbicara dengan seseorang yang banyak menggunakan gerakan di tubuhnya, kita secara tidak sengaja melakukan hal serupa. Ya, mirroring ini merupakan teknik yang memanfaatkan psikologis secara tidak sadar dari seorang manusia.

Ketika berkomunikasi, kita dapat melakukan teknik ini untuk menimbulkan bahwa kita berada pada banyak kesamaan dengan lawan bicara. Salah satu tokoh yang seringkali merlakukan teknik mirroring adalah mantan Presiden Amerika Serikat, Barrack Obama. Di setiap kesempatannya pada pertemuan dengan kepala negara yang lain, Barrack Obama seringkali melakukan teknik mirroring. Jika penasaran bagaimana Barrack Obama melakukan teknik mirroring, kita dapat menemukannya pada halaman YouTube dengan melakukan pencarian dengan kata “Barrack Obama Mirroring”.

Lalu, bagaimana agar kita menguasai teknik ini? Pertama, di setiap percakapan dengan orang-orang yang dekat dengan kita, perhatikan bagaimana mereka mencerminkan diri kita dan bagaimana kita mencerminkan mereka. Ini akan memberi kita panduan dasar yang dibutuhkan untuk memahami cara terbaik untuk mencerminkan orang lain. Kedua, untuk orang yang kita harap dapat menjalin hubungan baik, amati apa yang mereka lakukan dalam percakapan mereka dengan orang lain. Hal-hal macam apa yang mereka cerminkan kembali kepada orang-orang yang mereka ajak bicara? Tingkah laku, gerak tubuh, atau pilihan kata apa yang mereka tunjukkan yang dapat kita tiru secara otentik? Terakhir, latihan. Bicaralah dengan orang yang kita temui di depan umum, acara jejaring, lingkaran sosial, dll. Berlatihlah meniru dengan cara yang halus dan perhatikan apa yang terjadi saat kita melakukannya.

Tagged : /

Membangun Vocal Image

Selama ini mungkin sebagian orang berpikir bahwa penampilan adalah suatu hal yang penting untuk membangun personal branding. Orang-orang berlomba untuk berpenampilan rapi, mencolok, trendi serta melatih postur dan gestur untuk mendapatkan first impression yang baik dari lawan bicara atau orang lain yang ditemuinya dan menciptakan suatu personal branding yang diinginkan. Faktanya, memang manusia adalah makhluk visual. Sehingga, penampilan akan sangat penting bagi kita untuk menilai seseorang. Tapi ternyata, ada elemen lain yang harus menjadi perhatian kita juga ketika kita sedang membangun personal branding kita, yaitu cara kita berbicara dan berkomunikasi dengan orang lain yang dapat menimbulkan persepsi terhadap diri kita. Hal inilah yang biasa disebut dengan Vocal Image. Sebelum menyelam lebih jauh untuk dapat memahami Vocal Image, mari kita memahami apa itu personal branding dan pentingnya membangun personal branding di kehidupan kita.

Menurut Farco Siswiyanto Raharjo dalam buku “The Master Book of Personal Branding” (2019), personal branding merupakan cara seseorang untuk mengambil kendali penilaian orang lain atas diri individu tersebut. Selain itu, membangun personal branding dapat diartikan juga sebagai proses pembentukan persepsi orang lain atau publik terhadap aspek yang dimiliki seseorang. Aspek ini meliputi kepribadian, kemampuan, nilai, serta persepsi positif yang ditimbulkan atau ada dalam diri individu. Pembentukan Personal branding dipengaruhi beberapa hal, yakni penampilan, tindakan, postur, gestur, dan yang tidak kalah penting adalah vokal dan cara berkomunikasi seseorang.

Vokal dan cara komunikasi kita ternyata sangat penting dalam menunjang pembentukan personal branding kita. Vinh Giang, salah satu guru dan ahli komunikasi di Amerika menyampaikan bahwa orang lain akan mulai membuat asumsi tentang kita dari momen kita mulai berbicara. Ia menyampaikan juga bahwa cara kita berbicara menunjukan kepribadian kita. Pernahkah kita melihat seseorang yang berbicara dengan cepat dan terburu-buru? Kita dapat berasumsi bahwa orang ini adalah orang yang seringkali tergesa-gesa dan serba cepat dalam melakukan sesuatu. Atau, pernahkah berbicara dengan orang yang berbicara dengan volume yang kecil? Kita dapat berasumsi bahwa orang ini adalah orang yang pemalu dan kurang percaya diri. Sedangkan orang yang berbicara dengan pelan, volume yang pas, terstruktur tegas dan tahu cara mengontrol jeda dalam berbicara, dapat kita asumsikan sebagai orang yang bijaksana dan pintar. Bukankah begitu?

Vokal kita memang dikaruniai oleh Tuhan yang tidak bisa kita tentukan atau tolak. Tapi kita bisa melatih vokal dan cara komunikasi kita sehingga kita bisa memiliki vocal image yang kuat dan kita inginkan. Salah satu caranya adalah dengan rutin melakukan reviu dari  vocal image kita secara terus menerus. Rekamlah kita berbicara selama lima menit tentang topik tertentu. Setelah rekamannya selesai, fokuskan diri kita untuk mendengarkan rekamannya. Persepsi yang kita dapat dari mendengarkan di rekaman itu adalah vocal image kita. Lakukan reviu dan perbaikan secara kontinyu. Tanyakan apakah volumenya cukup? Intonasinya sudah baik? Bagaimana dengan jeda berbicara? Apakah kita berbicara di nada atau pitch level yang enak didengar? Apakah masih banyak “em..” “aa..” “umm..” ketika kita sedang berbicara? Semua hal itulah yang harus terus diperbaiki sehingga kita memiliki vocal image yang diinginkan.

Memiliki vocal image yang kuat dan identik sangat baik untuk menunjang impression yang ingin kita ciptakan terhadap lawan bicara. Untuk menciptakan vocal image yang diinginkan, pertanyaan dasar yang harus ditanyakan adalah “Aku ingin dilihat seperti orang yang seperti apa oleh orang lain?” Jangan hanya memerhatikan penampilan, tapu latihlah terus vokal dan cara komunikasi kita, supaya personal branding yang kita inginkan dapat terbentuk.

Tagged : /

Menguasai Ketakutan saat Public Speaking

Pernahkah Anda mengalami momen dimana harus berbicara di depan umum tapi tubuh Anda merasakan kegelisahan hingga ketakutan seketika sebelum mulai berbicara? Jika ya, berarti Anda tidak sendiri. Berdasarkan estimasi para ahli, 77% populasi di seluruh dunia memiliki tingkat kecemasan dalam hal public speaking atau kemampuan untuk berbicara di depan umum. Sebagian orang mampu mengendalikan kecemasan ini, namun kebanyakan tidak. Apakah sulit untuk menguasai ketakutan ketika melakukan public speaking?

Glossophobia atau ketakutan terhadap public speaking merupakan hal yang cukup sering terjadi.  Berdasarkan artikel yang ditulis oleh Lisa Fritscher pada situs Verywell Mind yang sudah mendapatkan reviu dari Steven Gans, seorang psikiatris dan pengajar di Harvard Medical School, Glossophobia merupakan bagian dari Social Phobia atau ketakutan atas situasi sosial. Namun, yang membedakan dari gejala social phobia yang lain adalah orang yang memiliki Glossophobia tidak takut untuk ketemu orang atau mempertunjukan sesuatu di depan orang-orang, seperti menyanyi atau menari asalkan tidak harus berbicara di depan umum.

Tidak hanya pada orang dewasa, anak-anak pun terkadang memiliki Glossophobia. Contohnya pada saat di kelas. Ketika guru menanyakan sebuah pertanyaan pada murid di kelasnya, rata-rata murid di sekolah tersebut pasti berharap untuk tidak dipanggil namanya untuk menjawab pertanyaan meskipun mereka tahu jawabannya. Hal ini dikarenakan mungkin diri kita ingin menghindari untuk menjadi “public attention”.

Ya, ketika kita berbicara di depan umum, kita akan mendapatkan atensi dari orang di sekeliling kita. Bagi kita yang tidak biasa menjadi pusat perhatian akan cenderung gelisah pada saat menjadi “spotlight” publik. Gejalanya mulai dari berkeringat, detak jantung berdegup kencang, mulut kering, sulit bernapas, pusing, hingga tiba-tiba merasakan ingin buang air. Bagi Anda yang sulit mengontrol ketakutan ini, ternyata dapat membawa dampak yang kurang baik, lho!

Faktanya, di lingkungan pekerjaan dan proses meniti karir, seseorang akan dituntut untuk memiliki tingkatan public speaking yang cukup. Berpartisipasi pada pertemuan, mempresentasikan ide atau laporan, atau tugas lainnya yang membutuhkan seseorang untuk mampu berbicara di depan kolega-koleganya. Jika belum dapat mengontrol ketakutannya, maka seseorang akan kesulitan untuk melakukan pekerjaannya. Kalau terus dibiarkan, bisa menghambat karir atau mungkin kehilangan pekerjaan. Lebih jauh lagi, risiko yang lebih besar kalau kita tidak bisa mengontrol ketakutan ini, kita akan mengalami depresi atau kegelisahan tiada henti.

Ada beberapa cara untuk melatih menghadapi ketakutan saat public speaking. Salah satunya adalah melalui Cognitive-Behavioral Therapy (CBT). Terapi ini bertujuan untuk mengganti pesan ketakutan yang sampai ke otak dengan narasi positif kepada diri sendiri. Melalui terapi ini, seseorang akan mempelajari bagaimana teknik relaksasi diri dan apa yang harus dilakukan saat menghadapi “panic attack”, seperti mengatur nafas, berpikiran positif dan mengatur ritme jantung sebagaimana yang kita biasa lakukan saat berolahraga.

Hal lainnya yang dapat membantu untuk menurunkan ketakutan kita terhadap public speaking adalah dengan rutin bergabung dalam grup kecil yang melakukan aktivitas dialog aktif antar anggotanya. Melalui kebiasan rutin berbicara di depan anggota grup, selain meningkatkan kemampuan public speaking seseorang, kegiatan ini juga dapat membangun kemampuan “critical thinking” yang nantinya melengkapi kemampuan berdialog seseorang.  Melalui cara ini, seseorang juga dapat meningkatkan kepercayaan diri, dimana rasa percaya diri sangat penting untuk menjadi modal dasar seseorang melakukan public speaking.

Bagaimana? Apakah sudah cukup membantu? Kita bisa memulai aktivitas rutin untuk mengontrol ketakutan kita ketika harus public speaking dengan cara-cara di atas mulai dari sekarang!

Tagged :

Membangun Kepercayaan melalui Komunikasi yang Efektif

Pernahkah Anda memikirkan, kenapa perbuatan yang kita sangka benar namun orang lain dapat berpikir sebaliknya? Bagaimanakah suatu ucapan atau perbuatan bisa kita anggap sebagai sesuatu yang benar ataupun salah? Ternyata, benar atau salahnya segala sesuatu bisa berdasarkan pada kepercayaan yang kita miliki atas sebuah gagasan, pandangan, nilai, norma hingga perbuatan orang yang kita kagumi. Sebuah kepercayaan juga tidak terbentuk begitu saja, dibutuhkan proses dan waktu agar sebuah kepercayaan terhadap sesuatu dapat terwujud.

Kepercayaan merupakan hal yang esensial dalam kehidupan sosial setiap manusia. Manusia memerlukan kepercayaan terhadap apa yang dilakukan, dikatakan, dirasakan hingga dialami di hampir setiap aspek kehidupan, seperti kepercayaan dalam agama, hubungan antar sesama, politik, kesehatan, gaya hidup dan lain sebagainya. Sebagai contoh, jika seseorang tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh dokter terhadap penyakitnya, maka orang tersebut tidak akan mendapatkan manfaat yang maksimal atas rekomendasi yang disampaikan dokternya. Contoh lainnya adalah dalam dunia pekerjaan, apabila para karyawan tidak memercayai pimpinannya maka pencapaian tujuan dalam bekerja akan semakin sulit hingga bisa tidak tercapai. Dengan memiliki tingkat kepercayaan yang tinggi, seseorang dapat memaknai dan melakukan aktivitasnya dengan lebih optimis dan memberikan hasil yang maksimal.

Untuk memahami konsep dari kepercayaan, ada baiknya untuk kita memahami terlebih dahulu mengenai apa itu kepercayaan dan bagaimana suatu kepercayaan dapat memberikan dampak yang besar bagi seseorang.

Menurut Paul Richard Thagard yang merupakan seorang filsuf Kanada yang mengkhususkan diri dalam ilmu kognitif, filsafat pikiran, dan filsafat ilmu pengetahuan dan kedokteran, menyampaikan bahwa kepercayaan merupakan kumpulan perilaku yang bergantung terhadap sesuatu yang dapat memengaruhi seseorang dalam beraktivitas. Kepercayaan juga merupakan sebuah perasaan kepercayaan diri dan suatu konsep keamanan diri yang dapat menjadi pedoman hidup bagi seseorang. Dengan memiliki kepercayaan akan sesuatu, manusia secara tidak langsung akan terpengaruh oleh nilai-nilai yang terkandung dari kepercayaan yang dia miliki.

Membangun sebuah kepercayaan dapat terwujud melalui komunikasi yang efektif. Hal ini dikarenakan membangun kepercayaan sangat bergantung tentang bagaimana seseorang membangun hubungan dengan lingkungannya. Banyak dari Key Opinion Leaders (KOL) seperti publik figur, pemuka agama, politikus hingga pimpinan perusahaan  memiliki kemampuan komunikasi yang efektif sehingga banyak masyarakat yang terpengaruh dan percaya terhadap apa yang dilakukan dan disampaikan oleh KOL. Berikut ini adalah cara-cara yang tepat untuk membangun kepercayaan melalui komunikasi yang efektif.

Menurut akademisi Dr Katalin Illes dan Dr Martin Mathews, terdapat sepuluh cara untuk membangun kepercayaan melalui cara komunikasi yang efektif. Mendengarkan keinginan, pendapat dan suara dari lingkungannya merupakan cara yang pertama. Dengan mendengarkan dengan hati terbuka, Anda dapat mendapatkan peluang dan masukan yang tepat tentang bagaimana harus berucap, bertindak dan memutuskan sesuatu kepada para orang di sekitar, pengikut maupun bawahannya. Kedua, seseorang harus dapat mengatakan dan menunjukan secara jelas nilai atau kebiasaan yang genuine dan tulus dari dalam dirinya. Kedisiplinan dan komitmen dalam berkata dan berbuat sesuatu sangatlah penting untuk membangun kepercayaan. Ketiga, sampaikan sesuatu dengan transparan dan jujur hingga membentuk suatu budaya. Kepercayaan ditemukan dari nilai-nilai yang berasal dari hati yang berlandaskan kejujuran. Keempat, percayai orang yang menyampaikan kritik dan saran kepada Anda. Berdiskusi dan membentuk tim kompeten yang dapat membantu menyampaikan informasi yang diinginkan kepada orang di sekitar, pengikut maupun bawahan Anda.

Kehadiran merupakan hal penting yang diperlukan untuk membangun kepercayaan. Kepercayaan adalah hal yang personal dan komunikasi tatap muka adalah kunci penting untuk membangun interaksi sehingga kepercayaan pun lama kelamaan akan muncul. Seseorang juga harus fokus menyampaikan komunikasi secara terus menerus untuk membantu orang lain berada dalam kebiasaan yang diinginkan. Cara selanjutnya adalah mencintai orang di sekitar, pengikut atau bawahan Anda. Dengan mencintai mereka hingga mendapat respon yang positif, Anda akan dapat mudah masuk ke dalam suatu hubungan dan  meyakinkan mereka hingga membangun kepercayaan dengan mereka.

Seperti yang dikatakan sebelumnya, membangun sebuah kepercayaan membutuhkan proses dan waktu yang tidak sebentar. Membangun keterikatan dan hubungan atas dasar kepercayaan memerlukan komitmen dan disiplin diri. Oleh karena itu, jangan mengharapkan hasil yang instan untuk membangun sebuah kepercayaan dengan orang lain yang kekal!

Tagged : /

Communication Gap

Komunikasi merupakan kemampuan yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari dan pekerjaan. Kemampuan pegawai dalam berkomunikasi sangatlah dibutuhkan, khususnya dalam menyampaikan dan menerima pesan atau informasi secara jelas. Pegawai yang memiliki kemampuan yang tinggi dalam berkomunikasi, memiliki kecenderungan untuk bekerja lebih efisien karena dapat menerima arahan dan bekerja sesuai dengan tujuan dan obyektif dari perusahaan. Namun, pada kenyataannya masih banyak orang yang tidak mampu berkomunikasi dengan baik sehingga dapat menyebabkan permasalahan yang besar. Salah satu hal yang menyebabkan proses komunikasi menjadi terhambat adalah karena adanya communication gap.

Communication gap merupakan istilah yang digunakan ketika terdapat perbedaan pemahaman arti pesan antara pengirim dan penerima pesan. Keith Davis, salah satu pencetus teori komunikasi menyatakan bahwa komunikasi merupakan proses interaksi yang terjadi saat pengirim pesan (sender) menyampaikan informasi dan penerima pesan (receiver) dapat menerima dan memahami informasi yang disampaikan. Communication gap dapat terjadi karena adanya gangguan (noise), perbedaan dan adanya ‘penghalang’ ketika proses penyampaian pesan atau informasi berlangsung.

“10% of conflict is due to difference in opinion and 90% is due to delivery and tone of voice”

Faktor gangguan yang dapat mengganggu proses komunikasi berupa suasana, ambiens, suara dan hal-hal eksternal lainnya yang terdapat disekeliling sender dan receiver. Selain meminimalisir gangguan melalui penentuan lokasi dan suasana komunikasi yang tepat, seseorang dapat melatih kemampuannya untuk dapat berkomunikasi dengan lebih rileks, fokus dan melatih konsentrasi untuk meningkatkan kemampuan yang disebut dengan inner silence. Di saat kita berbicara dengan orang lain, upayakan untuk selalu dalam kondisi rileks dan tidak tegang. Kurangi fokus terhadap permasalahan dan hal negatif dari pembicaraan, sehingga fokus dapat digunakan untuk mencari solusi atas permasalahan dan hal positif lainnya. Dalam posisi rileks dan fokus kepada pembicara, lama kelamaan diri kita akan terbiasa untuk membangun inner silence, yaitu kondisi dimana pikiran dan jiwa kita berada dalam situasi yang tenang dan dapat mengurangi gangguan komunikasi yang datang dari luar.

Selain faktor gangguan, proses komunikasi dapat terjadi dikarenakan adanya perbedaan antara sender dan receiver. Contoh konkritnya adalah saat seorang pimpinan perusahaan berkomunikasi dengan pegawainya yang terpaut jenjang usia yang cukup jauh. Tentunya terdapat tantangan dalam menyampaikan pesan dan arahan dikarenakan terdapat perbedaan-perbedaan, seperti cara pandang, pengalaman, umur, gaya bahasa, pemikiran dan nilai internal pimpinan tersebut dalam menyampaikan pesannya kepada pegawainya sehingga dapat mengakibatkan perbedaan pemahaman yang diterima oleh pegawai. Apabila kita tidak memiliki kemampuan yang cukup dalam memahami hal-hal tersebut, maka kita akan sulit untuk memahami informasi dan menjawab ekspektasi yang disampaikan oleh lawan bicara. Kita dapat membiasakan diri untuk melatih kemampuan mengobservasi bahasa non-verbal dan deep listening dari lawan bicara kita.

The biggest communication problem is we do not listen to understand, we listen to reply”

Dalam berkomunikasi, kita tidak hanya memahami pesan yang disampaikan melalui verbal, namun juga bahasa non-verbal yang biasanya dikeluarkan dalam bentuk bahasa tubuh. Mimik muka, gerak bibir, mata dan anggota tubuh lainnya adalah bahasa yang paling jujur dan dapat menunjukkan maksud dan tujuan asli lawan bicara di saat berkomunikasi. Tidak hanya komunikasi non-verbal, seseorang harus dapat melatih kemampuan mendengarkan secara mendalam (deep listening). Ya, komunikasi bukan hanya soal berbicara, tapi juga bagaimana kita bisa mendengarkan lawan bicara dengan baik dengan mendengarkan setiap kata-kata yang disampaikan. Hal ini dikarenakan di setiap kata yang diucapkan lawan bicara, seringkali terdapat makna tersirat yang memerlukan pemahaman dan pendengaran yang mendalam agar mengerti arti sebenarnya.

Communication gap juga terbentuk karena adanya ‘penghalang’ yang menghalangi proses pengiriman pesan. Dalam dunia perkantoran biasanya faktor penghalang yang menjadi masalah adalah penghalang fisik, persepsi, emosi, bahasa, budaya dan hubungan interpersonal. Penghalang fisik seperti dinding, pintu yang tertutup, jarak antar pegawai dapat menyulitkan para pegawai untuk berkomunikasi dengan lebih santai dan baik. Selain penghalang fisik, setiap pegawai memiliki persepsi yang berbeda-beda sesuai dengan yang pernah dialaminya. Persepsi antar pegawai yang berbeda dapat disatukan melalui proses komunikasi yang rutin, seperti mengadakan rapat atau pertemuan secara reguler untuk menyamakan persepi. Selain itu, pegawai yang takut, tidak bahagia, tegang dan tidak percaya dapat membentuk adanya penghalang emosi dan berdampak pada tertutupnya lajur komunikasi yang jelas dari dalam dirinya. Penghalang lainnya tercipta dari bagaimana seseorang tumbuh dan berkembang, yaitu faktor bahasa, budaya dan interpersonal seseorang. Cara yang paling tepat untuk mengurangi halangan ini adalah dengan memahami latar belakang dari lawan bicara kita, termasuk bahasa, budaya dan nilai-nilai yang dipegang oleh lawan bicara kita.

Banyak yang mengartikan kemampuan komunikasi sama dengan kemampuan berbicara dan berinteraksi dengan sesama. Banyak pula yang memandang bahwa berkomunikasi itu mudah karena kita sebagai manusia sudah diajarkan berkomunikasi sejak kecil. Tetapi nyatanya, masih banyak hal yang perlu dilatih agar kita dapat berkomunikasi dengan lebih efektif dan mengurangi communication gap yang terjadi.

Tagged : / /